Selokan Otak dan Sampah Cinta

Selokan Otak Dan Sampah Cinta
Ilustrasi Selokan Otak dan Sampah Cinta

Di musim ini, aku ingin bahas cinta, pembahasan yang sudah sangat usang barangkali. Kalau cinta kuangkat jadi judul skripsi, mungkin harus kusiapkan segudang kajian terdahulu untuk di-ACC. Sebab perbincangan tentang cinta telah ada sejak masa Adam, Musa, Yusuf, dan terus bergulir hingga Nabi Muhammad. Masyarakat Yunani bahkan ngerujak dewa-dewanya sendiri, dari Eros si mesra sampai Zeus si tukang selingkuh. Dalam ruangan lain pun—Hindu, Nordik, sampai Jawa—juga punya cerita usang ini. Jadi memang tepat jika pembahasan cinta dibilang rongsok, tua, dan berdebu.

Tapi biarlah, aku tetap ingin membahasnya. Kalau apa yang kukatakan adalah sesuatu yang telah layu, aku tak peduli. Aku memang tak berminat menyegarkan kembali. Aku sebut tulisan ini ‘Selokan’, berfungsi sebagai saluran pembuangan sampah pikiran. Sampah pikiran sama dengan file chache laptop, membuat lemot akal jika dibiarkan. Jadi, tujuanku menulis ini tak lebih semacam curhatan saja, abaikan kalau tak tertarik, dan tanggapi kalau tak sepakat.

Awalnya, aku terusik dengan term cinta, sebuah istilah yang katanya tak bisa definisikan. Aku cek cinta di KBBI dan benar saja, aku menemukan keserampangan definisi. KBBI memaknai cinta dengan ‘suka sekali’ atau ‘sayang benar’. Sementara definisi suka adalah ‘kasih sayang’, dan definisi sayang adalah ‘cinta’. Ini definisi yang berputar-putar, padahal definisi tidak boleh ad-daur (circular definition). Dengan begitu, aku tak bisa menggunakan pemaknaan cinta melalui KBBI.

Aku pun beralih ke kamus bahasa Inggris. Di kamus online-nya[1], ‘love’ punya segudang arti. Dari gairah, pengorbanan, sampai antusiasme. Definisi ini terlalu luas, tidak mani’ (over-inclusive) karena memasukkan bagian yang bukan bagiannya. Perhatikan saja, pengorbanan itu bukan cinta meskipun kadang cinta butuh pengorbanan, tidak semua pengorbanan berangkat dari cinta. Antusiasme juga bukan cinta, karena meskipun cinta mengantarkan antusiasme, ngopi juga bisa bikin antusias. Jadi ini cinta atau kopi? Di sini pun makna love masih kurang tepat sasaran menurutku.

Aku lihat cinta dalam bahasa Arab ternyata lebih kompleks lagi. Tidak ada kata paten yang benar-benar relevan untuk padanan cinta dalam bahasa Indonesia. Cinta bisa pakai الحُبّ, bisa juga الوُدّ, العِشْق dan banyak lagi tergantung konotasi dan kesan yang hendak di sampaikan. Paling sering biasanya الحُبّ, Allah juga sering pakai kalimat ini. Ada 16 kali Allah menyatakan dirinya mencintai dengan redaksi الله ‌يُحِبُّ. Kenapa aku bilang tak konsisten? Sebab cinta yang disebut dalam ayat, itu jauh berbeda dengan cinta yang sampean paham, dan mungkin juga berbeda dengan cinta yang sampean rasakan. Sebagian ulama bahkan mengarahkan makna الله ‌يُحِبُّ itu bukan ‘Allah sedang cinta’ karena maf’ulnya manusia, sementara cinta harus memuat satu jenis (makhluk + makhluk). Lihat saja penjelasan ini di tafsir Ibn ‘Utsaimin. Walaupun pendapat mayoritas memang memaknainya ‘Allah sedang mencintai’, tapi yang jelas mashadaq cinta di sana berbeda banget dengan mashadaq cinta yang sampean pakai untuk merayu kekasih.

Lalu aku berpikir untuk menelusuri arti cinta setingkat lebih khusus, yakni secara terminologi. Ada menurut psikologi, ada juga sosiologi, filsafat, dan lain-lain. Masing-masingnya memiliki banyak sekali definisi yang berbeda. Aku ambil sampel sosiologis, kata Zygmunt Bauman: Cinta adalah fenomena sosial yang mencerminkan perubahan dalam masyarakat, di mana hubungan menjadi lebih cair dan tidak terikat. Ini lebih mirip iklan daripada definisi. Aku lebih suka yang filsafat, kata Friedrich Nietzsche: Cinta adalah ekspresi dari kehendak untuk berkuasa, di mana individu mencari hubungan yang memperkuat diri mereka. Tapi ini bukan definisi sempurna karena tidak jami’ (under-inclusive).

Sejauh ini, pendefinisian akan cinta bukan memperjelas tapi justru menambah kadar random saja. Apalagi kalau menyusuri bahasa puisi, ada yang memaknai cinta itu luka, ada juga yang bilang cinta adalah tangisan malam, ada yang mengartikannya separuh senja, dan banyak lagi. Aku jadi tertawa, itu lebih ngawur dari yang kubayangkan. Lagi bicara cinta kenapa malah nyasar ke dapur tetangga.

Sekilas pengusutanku tentang istilah dan makna cinta, aku tak mendapatkan pencerahan, justru pemahamanku semakin kusut. Karena definisi cinta yang kutemui selalu saja cacat, tidak mematuhi standar operasional pembuatan definisi. Meskipun tak bisa juga kalau kukatakan pengertian mereka tentang cinta itu salah. Pengertian cinta yang siapa pun berikan tetaplah benar fi haqqi qailihi. Sebab katanya, cinta yang setiap orang rasakan itu beda-beda sehingga menghasilkan kesan dan makna yang berbeda pula. Namun itu berarti definisi cinta akan subjektif, sementara pembuatan definisi haram bersifat subjektif.

Persoalan definisi tak akan ada habisnya, sementara untuk membuat definisi objektif yang akurat butuh penelitian komprehensif. Ini lebih susah dari penelitian desertasi S2 karena melibatkan kajian historis, psikologis, dan riset dengan responden seluruh umat manusia—hewan juga termasuk kalau mereka bisa mencintai. Belum lagi persoalan fleksibilitas istilah cinta itu sendiri yang kadang-kadang digunakan sesuai selera saja. Tidak ada patokan resmi bahwa cinta itu adalah istilah khusus dalam interaksi antara wanita dan pria, atau antara sahabat, atau hamba dan Tuhan, atau bagaimana yang benar? Ini juga dapat menimbulkan kerancuan tashawwur kalau tak dipertegas.

Biar lebih fokus, aku batasi latar mainnya dulu. Jadi cinta yang ingin kudefinisikan adalah kata cinta yang biasa sampean lontarkan untuk si someone. Ingat kembali ketika sampean bilang “aku mencintaimu, yangg!”, sebenarnya maksud ‘cinta’ di situ apa? Soal inilah yang ingin kujawab. Sekarang aku bukan membahas cinta dalam firman Tuhan, bukan pula cinta mami pada anak, tapi cinta si Mas pada si Adek. Aku tawarkan definisi menurutku. Memang rada subjektif karena aku membuatnya dari pengalaman pribadi, tapi kubuat sesuai perundang-undangan manthiq dan isti’mal urfiyah, jadi tetap objektif.

Langkah awal sebutkan genus: “Cinta adalah perasaan”. Benar kan, cinta memang bagian dari perasaan. Langkah kedua, tambahkan differensia: “Cinta adalah perasaan ingin memiliki”. Ngaku saja, ketika kita mencintai someone maka perasaan yang mendominasi adalah ingin memilikinya. Nah karakteristik ‘ingin memiliki’ menjadi pembeda (differensia) dari nau’ perasaan yang lain. Kalau gak paham ini, pulang saja sampean. Intinya, definisiku paling berhasil dari definisi siapa pun 😂. Ya, aku hanya ingin menegaskan kalau bilang ‘mencintai’ itu sama dengan bilang ‘ingin memiliki’. Berarti ucapan “aku mencintaimu” semakna dengan “aku pengen kamu jadi propertiku”, bukan “aku pengen kamu bahagia”?

Maaf saja, kepalaku banyak terisi sampah cinta sekarang, tulisan segini masih belum cukup untuk mengurasnya. Sayang sekali, aku tak bisa melanjutkannya di sini. Padahal sampah yang keren ada di bagian selanjutnya, aku mengklaim: “Cinta sejati itu ilusi”, “Cinta tulus harus pupus”, dan “Cinta karena Allah adalah dusta”. Kapan-kapan kubahas. Sanggah dulu definisiku ini.

[1] https://www.dictionary.com/

Cinulu adalah platform terbuka bagi para pelajar untuk berbagi karya melalui tulisan dalam bentuk artikel, opini, sampai dengan rekomendasi buku. Kamu juga bisa menulis disini dengan cara bergabung sebagai anggota di website ini. Gratis!

Responses

Bagikan post ini!

Buku