Pendahuluan: Sebuah Pertanyaan Dasar dalam Dunia Pendidikan
“Mengapa kita belajar?” adalah pertanyaan yang sering terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Pertanyaan ini menjadi titik awal refleksi dalam dunia pendidikan, mulai dari ruang kelas dasar hingga diskusi filsafat di perguruan tinggi. Di balik setiap kegiatan mengajar dan belajar, tersembunyi nilai-nilai, tujuan, dan asumsi yang membentuk sistem pendidikan itu sendiri.
Dua tokoh besar yang memberikan pengaruh mendalam dalam menjawab pertanyaan ini adalah Plato, filsuf Yunani klasik, dan Paulo Freire, pendidik dan filsuf asal Brasil yang dikenal karena pendekatannya yang revolusioner terhadap pendidikan. Meski berasal dari konteks sejarah dan budaya yang sangat berbeda, keduanya menawarkan visi pendidikan yang terus relevan hingga hari ini.
Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri bagaimana gagasan Plato dan Paulo Freire menjawab pertanyaan “mengapa kita belajar,” serta bagaimana pemikiran mereka bisa memberi arah bagi pendidikan Indonesia masa kini.
1. Plato: Belajar untuk Menemukan Kebenaran dan Keadilan
Pendidikan sebagai Alat Pembentukan Jiwa
Plato percaya bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah membentuk jiwa manusia agar mampu mengenali dan mendekati kebenaran sejati. Dalam karya terkenalnya The Republic, Plato menjelaskan bahwa manusia ibarat tahanan dalam gua yang hanya melihat bayangan kenyataan. Pendidikanlah yang membebaskan manusia dari “gua ketidaktahuan” dan membimbing mereka menuju cahaya pengetahuan.
Tiga Elemen Jiwa dan Stratifikasi Pendidikan
Plato membagi jiwa manusia menjadi tiga elemen: rasional (akal), spiritual (semangat), dan nafsu (hasrat). Pendidikan yang ideal harus menyeimbangkan ketiganya, namun menekankan dominasi rasionalitas. Oleh karena itu, menurut Plato, sistem pendidikan harus disusun secara stratifikatif:
-
Anak-anak dengan jiwa rasional dilatih menjadi filsuf-raja.
-
Anak dengan semangat tinggi diarahkan menjadi penjaga atau prajurit.
-
Sisanya dididik untuk menjadi produsen dalam masyarakat (petani, pedagang, dan pekerja).
Kritik dan Relevansi
Sistem Plato memang terlihat elitis, namun di balik itu, ia menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya transmisi informasi, tetapi perjalanan spiritual menuju kebaikan. Di era modern, idenya masih terasa dalam filosofi pendidikan karakter, pendidikan moral, serta upaya menjadikan siswa sebagai pencari makna, bukan sekadar penghafal materi.
2. Paulo Freire: Belajar untuk Membebaskan dan Memberdayakan
Pendidikan sebagai Praktik Kebebasan
Berbeda dari Plato, Paulo Freire melihat pendidikan sebagai alat pembebasan. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire mengkritik pendidikan tradisional yang ia sebut sebagai “pendidikan gaya bank”, di mana siswa dianggap seperti celengan yang harus diisi oleh guru.
Menurut Freire, sistem ini menindas dan menghambat kemampuan kritis peserta didik. Ia menyarankan pendekatan pendidikan dialogis, di mana guru dan siswa sama-sama berproses sebagai subjek yang saling belajar.
Kesadaran Kritis (Conscientização)
Freire menekankan pentingnya kesadaran kritis, yaitu kemampuan untuk menyadari realitas sosial, ekonomi, dan politik yang menindas, lalu bertindak untuk mengubahnya. Ia percaya bahwa pendidikan yang sejati harus membangkitkan keberanian untuk bertanya, bukan menuntut jawaban yang pasif.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini sangat relevan untuk mengkritisi sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian, serta mengabaikan pembangunan kesadaran sosial dan demokratis di kalangan siswa.
3. Menemukan Titik Temu: Belajar sebagai Proses Emansipasi dan Pencerahan
Tujuan Pendidikan Menurut Kedua Tokoh
-
Plato: Belajar untuk mencapai kebenaran dan keadilan; memurnikan jiwa.
-
Freire: Belajar untuk membebaskan diri dari penindasan dan merevolusi masyarakat.
Meskipun pendekatannya berbeda, keduanya sepakat bahwa belajar adalah proses transformatif — bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk menjadi manusia seutuhnya.
4. Relevansi bagi Pendidikan Indonesia Saat Ini
Masihkah Kita Belajar dengan Bertanya?
Sayangnya, sistem pendidikan Indonesia saat ini masih sangat terjebak dalam budaya “menghafal” dan “jawaban tunggal”. Ruang kelas sering kali tidak memberi ruang bagi pertanyaan kritis. Padahal, pendidikan seharusnya mendorong siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan berefleksi — sebagaimana dicontohkan oleh Plato maupun Freire.
Kurikulum yang Menghidupkan Kesadaran
Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu ada perubahan mendasar pada:
-
Kurikulum: Fokus pada pengembangan berpikir kritis, bukan hanya penguasaan materi.
-
Metode Mengajar: Mengedepankan dialog, diskusi, dan pemecahan masalah.
-
Peran Guru: Dari penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran yang memberdayakan siswa.
5. Belajar adalah Hak dan Tanggung Jawab
Belajar bukan sekadar kewajiban murid, melainkan hak semua manusia untuk memahami dan mengubah dunia. Dengan pendidikan yang mendalam dan reflektif, siswa tidak hanya akan tahu “apa” dan “bagaimana,” tetapi juga “mengapa.”
Penutup: Pendidikan sebagai Proses Menjadi Manusia
Plato mengajak kita untuk berpikir secara filosofis; Freire mengajak kita untuk berpikir secara kritis dan politis. Pendidikan yang baik adalah yang mampu menggabungkan keduanya: mendalam dalam pemahaman, dan nyata dalam aksi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tekanan ekonomi, kita perlu mengingat kembali bahwa belajar adalah proses menjadi manusia yang sadar, merdeka, dan bijak. Dan untuk itu, kita perlu kembali bertanya, merenung, dan berdialog.






























Responses