Di satu kelas, murid-murid saling lempar lelucon saat pelajaran sedang berlangsung. Sang guru diam saja, memaksakan senyum yang mulai retak. Di kelas lain, guru membentak karena merasa tidak dihargai. Murid terdiam, tapi pelajaran juga tak benar-benar masuk. Dua cerita ini mewakili dua ekstrem yang sama-sama salah: guru yang memilih menahan emosi sampai melemahkan diri, dan guru yang membiarkan emosi mengambil alih.
Sekolah terlalu sering membingkai guru ideal sebagai figur yang nyaris tanpa cela: sabar tiada batas, suara lembut setiap saat, tidak pernah menunjukkan rasa kecewa. Seolah, ketika seorang guru marah, ia otomatis turun derajat. Seolah kesabaran itu wajib absolut.
Tapi realitas ruang kelas tidak sesederhana doktrin idealisme.
Ada mitos yang terlalu lama hidup dalam dunia pendidikan: bahwa guru yang sabar adalah guru yang tidak pernah marah. Padahal, sabar bukan berarti diam. Bukan berarti menahan rasa sampai meledak dalam senyap. Justru, guru yang benar-benar sabar adalah mereka yang tahu kapan harus diam, kapan harus menegur, dan bagaimana mengatur nada agar tak menyakiti tapi tetap mengarah.
Dalam praktiknya, guru sering menghadapi murid yang menguji batas. Ada yang terus memancing perhatian, ada yang menyela saat guru menjelaskan, ada pula yang diam-diam menyimpan pemberontakan pasif. Guru yang tidak pernah marah dalam kondisi ini bukan berarti sabar—bisa jadi ia sedang kehabisan cara, atau memilih menyerah dalam diam.
Contoh konkret terjadi saat ulangan berlangsung. Seorang guru menangkap murid mencontek. Bila hanya ditegur lirih dan dibiarkan mengisi soal seperti biasa, kelas akan menangkap sinyal: “mencontek itu tidak terlalu salah”. Tapi jika guru marah—dengan kendali dan alasan yang jelas—anak-anak akan belajar soal tanggung jawab dan batas yang tidak bisa ditawar.
Menurut Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence, pengelolaan emosi adalah inti dari kecerdasan sosial. Marah bukan musuh. Justru, pengakuan terhadap emosi adalah tanda kematangan. Guru yang sadar sedang marah, dan tahu bagaimana mengelola marahnya agar mendidik, akan lebih dihormati daripada guru yang memaksakan diri terlihat “tenang” tapi di dalamnya mendidih.
Sementara itu, Albert Bandura melalui Social Learning Theory-nya menjelaskan bahwa murid belajar melalui observasi. Jika mereka melihat guru mampu mengelola kemarahan dengan tanggung jawab, maka itu menjadi pembelajaran yang jauh lebih dalam daripada sekadar isi kurikulum.
Dalam praktik pendidikan Islam, konsep ini juga kuat. Imam Al-Ghazali menyebut bahwa pendidik sejati bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mendidik dengan akhlak. Marah bukanlah tabu, selama marah itu tidak dibarengi dengan kebencian. Marah yang disampaikan dengan adab justru menjadi pengingat yang mengakar.
Dalam kerangka pendidikan Islam, sosok Nabi Muhammad SAW menunjukkan contoh pengelolaan emosi yang manusiawi. Beliau pernah marah ketika mendapati ketidakadilan atau pelanggaran nilai. Tapi kemarahan beliau bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menegakkan. Ia tidak reaktif, tapi responsif. Ini menjadi landasan bahwa mendidik bukan berarti meniadakan emosi, melainkan mengarahkannya.
Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah-nya, juga menyebut bahwa pendidik yang adil adalah yang menjaga wibawa tanpa menindas. Guru yang tidak pernah marah justru bisa kehilangan otoritas moralnya, karena murid tidak melihat batas yang jelas.
Guru bukan nabi. Guru bukan malaikat. Guru juga manusia yang bisa lelah, bisa sedih, bisa kesal. Tapi dunia pendidikan kerap menempatkan guru dalam beban imajinatif: harus sempurna, harus lembut, harus sabar tanpa batas.
Maka, perlu ada pembebasan pemaknaan. Guru yang baik bukan yang tidak punya emosi, tapi yang mampu menggunakan emosinya dengan sadar dan adil.
Ketika marah menjadi jalan untuk membimbing, bukan melukai, maka marah itu adalah bagian dari pedagogi. Dan ketika sabar bukan alasan untuk pasif, melainkan kekuatan untuk tetap mendampingi meski dalam situasi sulit, maka di situlah letak mulianya profesi guru.
Kesabaran guru bukan dinilai dari berapa kali ia tersenyum dalam kekacauan. Bukan dari seberapa lama ia menahan emosi. Tapi dari seberapa adil ia bersikap saat batas dilanggar. Dari keberaniannya untuk menegur tanpa menjatuhkan. Dari keteguhannya menjaga ruang belajar agar tetap manusiawi—bagi murid, dan bagi dirinya sendiri.
Karena mendidik adalah kerja penuh perasaan. Maka biarlah guru tetap menjadi manusia: yang bisa marah dengan sadar, dan sabar dengan nyawa.





























Responses