Pendidikan adalah proses manusiawi yang kompleks, dinamis, dan sarat makna. Dalam menghadapai tantangan hidup yang kompleks saat ini, pendidikan tidak boleh lagi dipahami semata-mata sebagai proses transfer pengetahuan dari guru ke murid, melainkan (seharusnya juga) dipahami sebagai proses pembebasan, pemberdayaan, dan penciptaan makna hidup.
Salah satu konsep yang berkembang di Indonesia sebagai respons atas kebutuhan akan perubahan paradigma pendidikan adalah kurikulum Merdeka Belajar. Konsep ini, yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan sebelumnya, mengusung semangat kebebasan dan otonomi dalam proses belajar-mengajar. Adapun pada periode menteri saat ini, belum jelas gaung konsep apalagi yang akan diangkat. Berdasarkan data terakhir, Kurikulum K13 maupun Kurikulum Merdeka masih berlaku meskipun dengan pendekatan yang berbeda: deep learning?
Namun dibalik itu semua, apa arti sebenarnya dari Merdeka Belajar? Apakah konsep Merdeka Belajar ini punya landasan teori yang valid? Paling tidak, apakah punya pandangan filosofis yang bernilai? Dan yang paling penting, betulkah konsep Merdeka itu sejalan dengan fakta di lapangan?
Pada tulisan kali ini, mari kita membedah sedikit mendalam semua pertanyaan itu. Selain itu, dalam kesempatan kali ini, kita mengaitkan konsep Merdeka Belajar dengan salah satu tradisi pemikiran Filsafat yang cukup berpengaruh pasa suatu masa: Filsafat Eksistensialisme.
Merdeka Belajar: Apakah Sebuah Konsep yang Berdasar pada Landasan Filosofis?
Pada sebuah laman resmi kspstendik.dikdasmen.go.id, dijelaskan bahwa Merdeka belajar adalah program kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim.
Esensi kemerdekaan berpikir, menurut Nadiem, harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. (kspstendik.dikdasmen.go.id)
Pada pemahaman di lapangan sendiri, berdasarkan pada arahan-arahan Kementerian terkait sebelumnya, Merdeka Belajar adalah sebuah pendekatan pendidikan yang menekankan kebebasan peserta didik dalam menentukan cara, tempo, dan gaya belajarnya. Konsep ini seakan mengusahakan  upaya untuk memanusiakan pendidikan, menjadikan siswa subjek aktif dalam proses pembelajaran, dan menggeser peran guru dari pusat informasi menjadi fasilitator.
Dalam konteks ini, (mungkin) Merdeka Belajar ingin menjadikan Pendidikan terbebas dari sistem yang kaku dan birokratis, dan sekaligus juga memberikan kebebasan eksistensial untuk memilih, menentukan arah belajar, dan menjadikan materi belajar lebih otentik.
Merdeka Belajar dalam Lensa Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensi individu, kebebasan, pilihan, dan tanggung jawab. Filsuf-filsuf utama eksistensialisme seperti Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Albert Camus, memberikan berbagai pandangan tentang bagaimana manusia harus hidup secara otentik dalam dunia yang tidak memberikan makna secara langsung.
Meskipun tidak sama persis dengan apa yang diyakini pada inti ajaran Filsafat Eksistensialisme, namun beberapa sisi konsep Merdeka Belajar punya point of view yang sama dengan Eksistensialisme. Salah satu yang terpenting adalah tentang kebebasan individu dalam menentukan perspektifnya, nilai dan sebagainya.
Berikut beberapa hal dari konsep Merdeka Belajar yang cukup mirip dengan pemikiran aliran Filsafat Eksistensialisme:
1. Membebaskan Subjek Didik
Merdeka Belajar memberi ruang bagi peserta didik untuk mengaktualisasikan kebebasannya, bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai pencipta makna. Siswa tidak dipaksa untuk mengikuti jalur standar yang seragam, melainkan diberi ruang untuk mengeksplorasi dirinya.
Dalam kaitannya dengan konsep Eksistensialisem, Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa, manusia pertama-tama eksis, dan baru kemudian menentukan dirinya sendiri melalui tindakan dan pilihan. Tidak ada yang namanya takdir pendidikan yang sudah ditentukan dari lahir. Manusia membentuk dirinya melalui pengalaman dan keputusan.
2. Menumbuhkan Kesadaran Otentik
Dalam suasana belajar yang merdeka, siswa didorong untuk menjadi pribadi otentik. Mereka diajak mengenali minat dan potensi diri, serta memilih jalan hidup berdasarkan refleksi pribadi, bukan tekanan sosial atau ekspektasi eksternal.
Eksistensialisme memahami bahwa hidup otentik adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh atas kebebasan dan tanggung jawab diri. Menjadi otentik berarti tidak sekadar mengikuti arus atau norma sosial, tetapi secara sadar memilih dan membentuk hidup berdasarkan nilai yang diyakini.
3. Mendidik untuk Bertanggung Jawab
Kebebasan yang diberikan dalam Merdeka Belajar bukanlah kebebasan yang lepas dari tanggung jawab. Sebagaimana dalam eksistensialisme, kebebasan harus dibarengi dengan kesadaran akan tanggung jawab moral terhadap pilihan dan tindakan.
Eksistensialisme menempatkan kebebasan sebagai pusat eksistensi manusia. Namun kebebasan ini bukan tanpa batas, namun harus datang bersama tanggung jawab yang besar. Sartre menyebut bahwa manusia dikutuk untuk bebas, dan oleh karena itu harus bertanggung jawab atas semua tindakannya.
4. Menghadapi Kecemasan dan Ketidakpastian
Siswa dalam Merdeka Belajar harus belajar menghadapi ketidakpastian masa depan, ketakutan akan kegagalan, dan kebingungan dalam memilih. Ini adalah bentuk kecemasan eksistensial yang perlu diakui dan dikelola melalui pendampingan dan pendidikan reflektif. Relevan dengan saat ini, dimana tidak jelasnya lapangan kerja, menjadi momok menakutkan tersendiri bagi pelajar yang akan lulus dari sekolah nantinya. Guru menjadi leader yang menciptkan suasana optimis bagi semua siswa.
Kierkegaard melihat kecemasan sebagai the dizziness of freedom atau dalam bahasa Indonesia berarti pusing karena kemungkinan yang tidak pasti; yaitu ketika manusia menyadari bahwa ia bebas untuk memilih, tetapi justru kebebasan itu menciptakan kegelisahan.
Kierkegaard tidak melihat ini sebagai hal negatif. Justru kecemasan itu adalah pintu gerbang menuju keotentikan dan kedewasaan spiritual. Orang yang berani menghadapi kecemasan itulah yang sedang bertumbuh sebagai manusia sejati.
>>>
Dari penjelasan singkat di atas, sebenarnya dapat kita lihat bahwa konsep Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh bapak Nadiem ini sebenarnya sangat filosofis jika dikaitkan dengan pemikiran Filsafat Eksistensialisme. Paling tidak, dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan punya landasan teori yang mendalam dan tidak asal-asalan.
Guru Ideal dalam Perspektif Eksistensialis
Jika siswa adalah subjek yang bebas dan otentik, maka peran guru dan dosen pun harus berubah. Guru bukan lagi penentu nasib siswa, tetapi lebih sebagai fasilitator, pendamping, dan saksi atas proses pembentukan eksistensi siswa.
Dalam perspektif Eksistensialisme, guru seharusnya menjadi lebih autentik. Dalam hal ini, mereka  tidak memaksakan nilai-nilai luar, tetapi menghadirkan dirinya secara jujur dan terbuka. Namun bukan berarti hal ini juga mengesahkan kebiasaan buruk dalam hidup yang terlanjur melekat, keseimbangan antara kebebasan autentik dan nilai-nilai sosial yang telah disepakati dalam sebuah lingkungan, tentu wajib selalu diperhatikan. Konsekuensi sederhananya jika guru jujur dalam menjunjung nilai otentik, maka pembawaannya akan lebih mudah dipahami sebagai pembelajaran sehari-hari. Bukan pembelajaran yang melangit dan sulit dipahami.
Selain itu, bersandar pada Eksistensialisme ini, guru seharusnya senantiasa mendorong refleksi dalam setiap proses pembelajaran. Guru bukan hanya membantu siswanya memahami materi pelajaran, tapi juga mendorong siswa memahami dirinya sendiri. Contoh kecilnya, mengarahkan bagaimana gaya belajar yang cocok untuk siswa terapkan dan tidak memaksakan jenis kecerdasan tertentu harus dimiliki oleh semua siswa.
Dan yang paling penting adalah bagaimana menghargai kebebasan siswa, tidak menciptakan ketergantungan dalam memahami pelajaran, tetapi memandirikan mereka agar mampu belajar berkembang berdasarkan dasar-dasar materi yang telah diberikan. Setelah pembelajaran, siswa diajak agar mampu bereksplorasi di dunia luar berdasarkan apa yang telah dipelajari di ruang kelas.
Realita di Lapangan: Merdeka Belajar Tapi Beban Administratif pada Guru
Walaupun secara ideal Merdeka Belajar bertujuan membebaskan peserta didik dan memberi ruang otonomi bagi guru, namun dalam pelaksanaannya, banyak guru merasa justru semakin terbebani oleh tuntutan administratif yang rumit dan teknis.
Beberapa Fakta di Lapangan yang biasa kita dengar pada tahun 2024 adalah guru diminta membuat berbagai dokumen CP (Capaian Pembelajaran), ATP (Alur Tujuan Pembelajaran), Modul Ajar, Asesmen Diagnostik, hingga laporan profil pelajar Pancasila. Beban ini menyita waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk mendampingi siswa secara lebih personal.
Meskipun tahun 2025 saat ini, tugas administrasi sudah mulai disederhanakan dengan terbitanya kebijakan baru per bulan Januari, namun tetap saja beban administrasi dibebankan pada guru. Hal yang sebenarnya sangat bisa dihilangkan. Pertanyaan utamanya sebenarnya adalah, apakah beban administrasi itu efektif berguna untuk memajukan kemampuan akademik siswa?
Mari kita lihat berita berikut, apakah ini begini contoh tujuan administrasi itu semua?
Seorang guru di Bone Keluhkan Beban Administrasi: RPP Wajib Tulis Tangan dan Pulang Menjelang Sore
Selain itu, Perubahan Kurikulum tanpa transisi yang matang juga menjadi permasalahan baru. Kurikulum Merdeka menuntut adaptasi cepat. Tidak semua guru mendapat pelatihan yang memadai, sehingga banyak yang merasa bingung dan (mungkin) tertekan.
Fakta-fakta ini mungkin jarang kita dengar di media sosial, namun jika kita berbicara dari hati ke hati dengan guru, maka inilah sebenarnya yang terjadi. Para guru tidak akan berani mengatakan hal tersebut di media, karena secara pekerjaan dan profesi, kebanyakan mereka adalah Pegawai Negeri Sipil yang harus patuh pada atasan (apapun perintahnya).
Dari sini, dapat kita lihat bahwa suatu kenyataan pahit itu ternyata ada, bahwa dibalik indahnya konsep Merdeka Belajar yang begitu filosofis, ternyata sedikit meninggalkan kesan yang tidak terlalu baik. Ada baiknya pemerintah mulai saat ini, berpikir untuk bagaimana menciptakan kebijakan yang menghilangkan beban administrasi pada guru. Hal ini agar konsentrasi guru betul-betul mengarah pada tugas inti mereka sebagai pendidik.
Dari sudut pandang Eksistensialisme, kondisi ini dapat dikritisi sebagai pengaburan esensi pendidikan. Filosofi Eksistensialis menekankan, otentisitas hubungan antara guru dan murid, pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan personal, dan kebebasan yang bertanggung jawab. Namun jika guru justru tidak merdeka secara eksistensial karena dikekang oleh rutinitas administratif, maka nilai-nilai otentik itu gagal terwujud.
Jean-Paul Sartre akan menyebut kondisi ini sebagai hidup dalam ketidakotentikan (inauthenticity). Alih-alih menjalankan makna personal dari tugas mendidik, justru guru hanya menjalankan sistem birokratik, yang membuat tugas intinya terbengkalai.
Merdeka Belajar dan Eksistensialisme: Menuju Pendidikan yang Memanusiakan Guru
Pendidikan dalam pandangan Eksistensialisme adalah proses untuk menjadikan manusia sadar akan kebebasannya dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Dalam kaitannya, Merdeka Belajar seharusnya bukan hanya sekadar kebijakan teknis, tetapi menjadi suatu bentuk revolusi Pendidikan yang menjunjung tinggi kebebasan dan kreativitas. Hal ini sejalan dengan semangat Eksistensialisme.
Makna Merdeka Belajar akan sulit terwujud bila subjek utama dalam pendidikan, yaitu guru, justru tidak merdeka. Jika guru dibebani tugas birokrasi, maka waktu untuk membimbing siswa secara reflektif berkurang. Selain itu, energi emosional untuk membina hubungan personal dengan siswa tergantikan oleh target laporan. Karena sebab itu semua, proses pembelajaran menjadi mekanistik (mirip mesin), bukan lagi mengutamakan eksistensi.
Seharusnya Merdeka Belajar adalah ajang menjadikan tugas-tugas guru menjadi lebih manusiawi. Tidak lagi menganggap mereka sebagai mesin pencetak laporan yang bisa digiring kiri kanan memenuhi laporan administrasi. Bukan justru sebaliknya, dimana Merdeka Belajar menciptakan keadaan yang bertentangan dengan makna MERDEKA itu sendiri.
Banyak cara mengukur kinerja guru selain dengan memaksa mereka membuat laporan yang bertumpuk. Salah satunya adalah dengan adanya assesmen siswa yang dipusatkan pada satu pusat seluruh nasional. Di sini lah hasil belajar siswa itu diukur, seberapa jauh mereka punya kapasitas sesuai dengan keinginan kurikulum Merdeka. Poin pentingnya, tidak seharusnya Tugas Birokrasi dibebankan pada mereka yang seharusnya melaksanakan Tugas Mendidik. Itulah fungsinya birokrasi secara ideal.
Kesimpulan
Merdeka Belajar, jika dipahami melalui lensa filsafat Eksistensialisme, adalah sebuah upaya untuk memanusiakan pendidikan, menjadikan peserta didik sebagai subjek bebas, otentik, dan bertanggung jawab atas eksistensinya sendiri. Prinsip-prinsip eksistensialisme seperti kebebasan, otentisitas, kecemasan eksistensial, dan tanggung jawab, memberikan fondasi filosofis yang kuat untuk menegaskan bahwa pendidikan bukanlah sekadar transfer informasi, tetapi proses penciptaan makna dan pembentukan eksistensi manusia.
Namun, dalam realitasnya, semangat pembebasan ini seringkali tereduksi oleh tekanan administratif dan birokrasi yang justru menyulitkan para guru. Beban dokumen, platform digital, dan perubahan kurikulum yang cepat membuat guru kehilangan ruang refleksi dan otonomi, yang seharusnya menjadi bagian penting dari proses belajar yang merdeka. Ini menciptakan sebuah ironi tersendiri: ketika siswa diajak untuk bebas belajar, guru justru tidak dimerdekakan dalam mengajar.
Dari perspektif eksistensialisme, ini adalah bentuk ketidakotentikan (inauthenticity) yang harus dikritisi. Pendidikan yang memerdekakan tidak hanya membutuhkan kebebasan bagi siswa, tetapi juga ruang eksistensi bagi guru untuk menjadi pendidik yang otentik dan bebas  berkarya. Kebebasan memilih, berpikir, dan bertindak (yang menjadi inti Merdeka Belajar) harus dihadirkan dalam semua sisi: baik pada murid maupun pada guru.
Oleh karena itu, Merdeka Belajar seharusnya tidak hanya menjadi slogan reformasi pendidikan, tetapi sebuah gerakan filosofis dan praksis yang membebaskan seluruh pelaku pendidikan. Beranjak dari ketidakseimbangan karena beban struktural dan administratif, menuju sebuah sistem pendidikan yang benar-benar memanusiakan. Adapun tugas kita sebagai pendidik, akademisi, maupun pembelajar, adalah terus membangun ruang belajar yang memberi kebebasan, makna, dan martabat bagi individu masing-masing.





























Responses